Beranda / Potensi Desa / Tape Singkong Khas Desa Gagaksipat
Tape Singkong Khas Desa Gagaksipat
Senin 24 Juli 2017

Gagaksipat - Masyarakat Jawa Tengah tentu tidak asing dengan makanan tape singkong. Tape singkong sebagai makanan yang berasal dari hasil proses fermentasi singkong ini digemari berbagai kalangan khususnya anak-anak.

Proses fermentasi tape singkong sendiri terjadi berkat tambahan ragi yang di tambahkan dalam proses pembuatannya. Proses fermentasi zat pati tersebut yang diubah menjadi gula, sehingga rasa asli singkong yang cenderung tawar berubah menjadi manis namun sedikit asam. Tekstur singkong yang semula keras berubah menjadi lebih lunak.

Besarnya animo masyarakat penggemar tape singkong ini membuat usaha pembuatan tape pun banyak ditemui baik di desa maupun di kota. Salah satunya usaha pembuatan tape singkong yang masih eksis adalah milik Wartorejo.

Usaha yang sudah digeluti selama dua puluh lima tahun ini dilakukan dalam rumah pribadinya yang beralamat didukuh Gagaksipat RT 04 RW 04, Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Wartorejo merelakan ruangan sebelah dapurnya sebagai tempat untuk memroduksi tape singkong. Usaha Wartorejo ini merupakan usaha turun temurun dari orang tuanya dulu. Wartorejo memiliki pekerjaan lain yakni beternak dan menjadi buruh tani.

Proses pembuatan tape singkong di rumah Wartorejo menggunakan cara tradisional. Dalam merebus singkong menggunakan bahan bakar kayu direbus diatas kuali besar dari tembaga. Kuali dari tembaga digunakan karena panas yang dihasilkan lebih bagus daripada kuali dari bahan tanah. Dengan proses pembuatannya secara tradisional membuat tape singkong buatan Wartorejo memiliki keunggulan tersendiri yaitu rasanya manis tanpa pemanis buatan dan cocok diolah menjadi berbagai macam makanan seperti tape goreng, es campur tape, cake tape dan sebagainya.

Bahan baku utama dalam pembuatan tape singkong memang singkong dan ragi, namun tidak sembarang singkong dapat digunakan untuk membuat tape. Singkong yang digunakan oleh Wartorejo ialah singkong jenis gatotkoco yang dibeli dengan harga dua ribu rupiah untuk setiap kilogramnya. Dalam sekali produksi membeli singkong sebanyak 2 kwintal, yang ketika menjadi tape menjadi 120 kg tape. Wartorejo harus membeli singkong dengan hati-hati karena jika singkong yang dibeli dalam kondisinya jelek maka hasil olahan akan rusak dan gagal menjadi tape. Wartorejo juga membutuhkan menggunakan bahan penunjang lain yang dibelinya dengan modal kurang lebih seratus ribu rupiah. Belum termasuk dengan kayu bakar seharga lima ratus ribu rupiah untuk setiap pick-up nya.

Tape buatan Wartorejo tersebut nantinya dijual ke Pasar Gading Solo dan diambil oleh pedagang yang langsung datang ke rumah Wartorejo. Wartorejo menjual tape singkongnya dengan harga Rp.10.000 per kilogram. Peran istri Wartorejo juga tak patut disepelekan karena istrinya  yang bertugas menjual tape singkong dengan diangkut menggunakan becak. Setiap hari istri Wartorejo menjajakan tape-tapenya di emperan Pasar Gading dari pagi hingga sore hari sampai dagangannya habis terjual.

Kendala yang dihadapi Wartorejo adalah jika tape-tapenya tidak habis terjual selain itu kadang tape buatannya rusak sehingga tidak layak untuk dijual. Jika mendapati hal tersebut biasanya tape dikonsumsi sendiri atau diberikan ke tetangga. Harapan Wartorejo ialah agar usahanya ini dapat terus berjalan dan kelak dapat diteruskan oleh anaknya.