Beranda / Potensi Desa / Mengenal Lebih Dekat Usaha Pembuatan Tempe Gagak Sipat
Mengenal Lebih Dekat Usaha Pembuatan Tempe Gagak Sipat
Senin 24 Juli 2017

Gagaksipat - Tempe merupakan bahan makanan hasil fermentasi kacang kedelai atau jenis kacang-kacangan lainnya menggunakan jamur Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae. Di Indonesia pembuatan tempe sudah menjadi industri rakyat karena banyak digeluti oleh sebagian besar masyarakat khususnya masyarakat yang tinggal di pedesaan.

Salah satu desa yang terkenal dengan pembuatan tempe adalah Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Desa ini memiliki kurang lebih sebelas home industri pembuatan tempe, salah satunya ialah milik Suryanto.

Pembuatan tempe yang dirintis sejak  delapan tahun lalu ini beralamat di Dukuh Kanoman RT 02 RW 08 Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Suryanto mendapatkan keterampilan dalam membuat tempe dari belajar dari tetangganya yang juga pembuat tempe. “Awalnya hanya coba-coba secara otodidak belajar membuat tempe, lalu jadi berkembang dan akhirnya memutuskan untuk usaha membuat tempe,”  kata Pria empat puluh Sembilan tahun ini.

Awalnya usaha pembuatan tempe Suryanto masih  menggunakan cara manual termasuk menggiling kedelai dengan cara diinjak-injak. Perkembangan dan kemajuan zaman serta permintaan yang tinggi akhirnya Suryanto menggunakan mesin sebagai pemecah dan penggiling kedelai. Suryanto membeli mesin tersebut ditukang las di daerah Donohudan seharga lima juta rupiah. Mesin tersebut terdiri dari 2 bagian, bagian atas untuk pemecah dan bagian bawah untuk mencuci dan menggiling kedelai.

Dalam sehari Suryanto mampu memproduksi 2 kuintal tempe. Suryanto setiap hari memroduksi dari pagi hingga sore. Dalam produksi Suryanto dibantu istri dan lima tenaga yang merupakan tetangganya dengan upah dibayar harian.

Tempe-tempe tersebut oleh  Suryanto disetorkan ke pedangang tempe di Pasar Dibal sedangkan istrinya bertugas melayani pedagang tempe yang mengambil dagangan di rumahnya. Harga jualnya pun cukup terjangkau yakni tiga ribu rupiah untuk setiap plastik  dan dalam sehari habis terjual rata-rata 2 kuintal.

Suryanto menggunakan bahan baku kedelai dengan membeli di Pasar Legi Solo sebanyak tiga  ton untuk produksi selama 10 hari. Untuk pembungkusnya, Suryanto menggunakan daun pisang dengan harga dua ribu rupiah per gulung dan satu rol plastik seharga dua puluh enam ribu rupiah.

Home industri pembuatan tempe Suryanto ini sering mendapatkan kunjungan, antara lain dari YPAC Solo sebagai pengenalan kewirausahaan. Tak jarang mahasiswa dan murid sekolah mengunjungi yang ingin mengetahui proses pembuatan tempe. Suryanto dan istrinya pun berharap agar usahanya ini semakin berkembang sehingga mampu menjangkau pasar di Soloraya.