Beranda / Potensi Desa / Sulap Siti: Olah Limbah Memiliki Nilai Tambah
Sulap Siti: Olah Limbah Memiliki Nilai Tambah
Senin 24 Juli 2017

Gagaksipat - Pemerintah Indonesia sejak tahun 2010 gencar menggalakkan industri kreatif. Salah satu industri kreatif tersebut adalah handicraft atau seni kerajinan tangan. Handicraft atau seni kerajinan tangan tidak selalu membutuhkan bahan baku yang mahal, barang bekas atau limbah pun dapat dikerjakan menjadi seni yang bernilai tinggi.  

Di tangan Siti Restanti kaleng-kaleng bekas tersebut disulap menjadi tempat pensil, celengan, vas bunga, toples, ember, jam dinding dan sebagainya.

Siti menggunakan rumahnya yang beralamat di dukuh Kanoman RT 02 RW 10, Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali sebagai sentra produksi kerajinan tangannya.

“Awalnya memang hobi melukis sejak kecil, kebetulan liat salah satu acara di televisi tentang daur ulang limbah kaleng bekas. Pada waktu itu timbul ide dan tahun 2011 coba-coba belajar dan membuat, tahun 2012 mulai dijual, pasar menerima lalu fokus membuat sampai sekarang, “ tutur Ibu tiga anak ini.

Siti mengerjakan semua kerajinan tangannya di rumahnya dibantu suami dan anaknya. Hasil kerajinan tangan yang sudah jadi dipajang di dalam ruang tamu rumahnya yang sekaligus dijadikan sebagai workshop. Siti memilih menggunakan ruang tamu supaya tamu yang berkunjung ke rumahnya dapat melihat-lihat koleksi kerajinan kaleng bekas miliknya dan supaya timbul minat untuk membeli.

Untuk mendapatkan bahan baku kaleng, Siti mengaku membelinya di pengepul rosok dan dari pedagang es teler dengan harga Rp 5000 per kilo, untuk kaleng susu Rp 200 sampai Rp 300 per biji dan kaleng rokok Rp 500 per biji. Dalam pembuatan kerajinan kaleng bekas, Siti membutuhkan bahan-bahan seperti kaleng bekas, cat alklirik, cat besi, kuas, spidol, dan pensil.

“Yang pertama kaleng dibersihkan, dicuci, jika ada karatnya kaleng digosok dan dibersihkan sampai bersih, lalu dikeringkan dengan cara dijemur dan diangin-anginkan. Setelah kering di cat dasar warna putih, disketsa gambar atau motif yang diinginkan menggunakan pensil 8B, lalu dilukis dan dicat, dikeringkan dan diberi pernis, proses terakhir finishing dan packing, “ kata Ibu 32 tahun ini memberi penjelasan pembuatan produknya.

Harga dari kerajinan kaleng bekas ini tergolong cukup murah, yakni Rp 7000 untuk tempat pensil, Rp 10.000 untuk celengan ukuran kecil dan Rp 30.000 untuk celengan ukuran besar, Vas bunga Rp 25.000 sampai Rp 30.000, toples Rp 50.000, ember ukuran kecil Rp 40.000 dan ember ukuran besar Rp 75.000, serta jam dinding Rp 20.000 sampai Rp 40.000.

Dalam pemasaran produknya, Siti mengaku semuanya dijual secara online. Siti kini kerap juga menerima panggilan untuk memberikan pelatihan cara membuat kerajinan kaleng bekas baik di dalam maupun luar kota. Jika ada acara wisuda dan kenaikan kelas maka permintaan meningkat, biasanya digunakan untuk cinderamata atau kenang-kenangan.

“Jika ingin membeli dan melihat-lihat koleksi kaleng bisa cari di Instagram dan Facebook dengan searching Istana Kaleng atau bisa langsung datang ke rumah, ”kata wanita yang memiliki latar belakang perawat ini.

Untuk mempromosikan kerajinan kaleng bekas miliknya, Siti mendaftarkan usahanya yang termasuk UMKM handycraft ke Disperindag Kabupaten Boyolali dan Rumah Kreatif Bersama Solo selain itu beliau juga rajin mengikuti lomba seperti Lomba UMKM Kabupaten Boyolali Tahun 2017.

Usahanya berbuah manis. Pada acara  Business Start Up Competition, Siti berhasil mendapatkan juara 2. Beberapa penghargaan juga berhasil Siti peroleh yakni sebagai narasumber di acara pemberdayaan masyarakat yang diselenggarakan oleh instansi swasta maupun pemerintah.

Siti memiliki harapan supaya usahanya ke depan dapat lebih maju dan bermanfaat serta dibantu oelh pemerintah baik dari segi pemasaran maupun modal.