Beranda / Potensi Desa / Energi Alternatif dari Limbah Tahu
Energi Alternatif dari Limbah Tahu
Senin 24 Juli 2017

Gagaksipat - Berawal dari keprihatinan karena pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah cair tahu secara sembarangan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Boyolali mengusulkan dan membuatkan pengelolaan biogas dari limbah cair tahudi Desa Gagak sipat tepatnya di dukuh Kanoman..

Awalnya Dukuh Kanoman merupakan sentra industri tahu yang cukup terkenal sejak dulu. Dukuh ini memang terkenal dengan pembuatan tahu karena mayoritas warganya secara turun temurun merupakan perajin tahu. Banyaknya warga yang memproduksi tahu juga dibarengi dengan banyaknya limbah atau ampas dari sisa-sisa pembuatan tahu. Limbah yang dihasilkan oleh industri tahu ada dua macam, yaitu limbah padat, yang biasanya menjadi pakan ternak dan limbah cair. Limbah cair oleh warga biasanya langsung dibuang ke lingkungan sekitar. Pembuangan limbah cair secara sembarangan dapat merusak lingkungan dan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat proses pembusukan bahan organik oleh bakteri. Warga Kanoman sendiri sering membuang limbah cair ke sungai sehingga menimbukan pencemaran sungai yang cukup parah.

Pengelola biogas setempat  Budi menceritakan awalnya diujicoba dengan membuat satu unit biogas. Program tersebut dinilai berhasil kemudian dibuatkan lagi 6 unit kembali oleh BLH Kabupaten Boyolali pada tahun 2002 dan 2 unit biogas komunal dari PNPM pada tahun 2013.

Fungsi penampungan biogas adalah untuk mengolah limbah cair tahu untuk dijadikan biogas sebagai energi alternatif. Limbah cair tahu merupakan limbah organik yang mudah diuraikan oleh mikroorganisme secara alamiah. Prosesnya ialah tanah digali sedalam kurang lebih 6 meter, lalu dimasukkan digester. Digester merupakan wadah atau tempat berlangsungnya proses fermentasi limbah organik dengan bantuan mikroorganisme hingga menghasilkan biogas. Ada beberapa tipe digester, yaitu tipe floating dome dan fixed dome.

Untuk dapat digunakan sebagai pengganti LPG, limbah cair tahu tersebut harus melalui proses pembusukan awal selama 2 sampai 3 minggu. Setelah itu baru dapat digunakan. Biasanya warga memasang selang yang tersambung langsung dengan biodigester dan dihubungkan langsung dengan kompor di dapur.

“Dukuh Kanoman memiliki total ada 8 unit biogas yang terletak beberapa meter dari usaha pembuatan tahu. Warga yang memanfaatkan biogas tersebut sebagai pengganti gas LPG dan digunakan untuk masak. Dulu ada yang menggunakan untuk lampu petromax, namun kurang maksimal sehingga sudah tidak digunakan lagi,” kata Budi.

Budi menambahkan pembuatan biogas di dukuh Kanoman semuanya gratis. Warga hanya menyediakan tempat saja, untuk alat dan tenaga ahli semua dari BLH.  

Pengelolaan biogas dukuh Kanoman pernah mendapatkan prestasi pada tahun 2014 sebagai juara 2 tingkat provinsi dan pada tahun 2015 mendapatkan nominasi 10 besar tingkat nasional di Jakarta. Budi menambahkan setelah lomba dari Jakarta, sebenarnya dari Kementerian ESDM mau membantu membuatkan 10 unit biogas, namun terkendala lokasi, karena tidak ada tempat lagi.

Pengelolaan biogas di dukuh Kanoman sering mendapatkan kunjungan dari berbagai sekolah dan kampus untuk kegiatan belajar dan penelitian serta LSM dalam rangka studi banding. Beliau pun berharap agar pengelolaan biogas di dukuh Kanoman dapat berguna bagi warga sekitar dan kelak dapat membuat atau mengelola biogas dari kotoran ternak.